Implementasi Framework Cobit


IMPLEMENTASI FRAMEWORK COBIT

·       Pengertian Framework Cobit
            Framework COBIT adalah kerangka panduan tata kelola TI dan atau bisa juga disebut sebagai toolset pendukung yang bisa digunakan untuk menghubungkan batas antara kebutuhan dan bagaimana teknis pelaksanaan pemenuhan kebutuhan tersebut dalam suatu organisasi. COBIT memungkinkan pengembangan kebijakan yang jelas dan sangat baik digunakan untuk IT kontrol seluruh organisasi, membantu meningkatkan kualitas dan nilai serta menyederhanakan pelaksanaan alur proses sebuah organisasi dari sisi penerapan IT.


            COBIT dikenal luas sebagai standard defacto untuk kerangka kerja tata kelola TI (IT Governance) dan yang terkait dengannya. COBIT berorientasi proses, dimana secara praktis COBIT dijadikan suatu standar panduan untuk membantu mengelola suatu organisasi mencapai tujuannya dengan memanfaatkan TI. COBIT memberikan panduan kerangka kerja yang bisa mengendalikan semua kegiatan organisasi secara detail dan jelas sehingga dapat membantu memudahkan pengambilan keputusan di level top dalam organisasi.
.
            Di sisi lain standard/framework ini terus berevolusi sejak pertama kali diluncurkan di 1996 hingga rilis terakhir yaitu COBIT 5 yang diluncurkan pada Juni 2012 yang lalu. COBIT 5 memiliki Prinsip dan Enabler yang bersifat umum dan bermanfaat untuk semua ukuran perusahaan, baik komersial maupun non-profit ataupun sektor publik. Prinsip tersebut diantaranya:
1.       Meeting stakeholder needs, berguna untuk pendefinisan prioritas untuk implementasi, perbaikan, dan jaminan. Kebutuhan stakeholder diterjemahkan ke dalam Goals Cascade menjadi tujuan yang lebih spesifik, dapat ditindaklajuti dan disesuaikan, dalam konteks : Tujuan perusahaan (Enterprise Goal), Tujuan yang terkait IT (IT-related Goal), Tujuan yang akan dicapai enabler (Enabler Goal). Selain itu sistem tata kelola harus mempertimbangkan seluruh stakeholder ketika membuat keputusan mengenai penilaian manfaat, resource dan risiko.

2.       Covering enterprise end-to-end, bermanfaat untuk mengintegrasikan tata kelola TI perusahaan kedalam tata kelola perusahaan. Sistem tata kelola TI yang diusung COBIT 5 dapat menyatu dengan sistem tata kelola perusahaan dengan mulus. Prinsip kedua ini juga meliputi semua fungsi dan proses yang dibutuhkan untuk mengatur dan mengelola TI perusahaan dimanapun informasi diproses. Dalam lingkup perusahaan, COBIT 5 menangani semua layanan TI internal maupun eksternal, dan juga proses bisnis internal dan eksternal.

3.       Applying a single intergrated framework, sebagai penyelarasan diri dengan standar dan framework relevan lain, sehingga perusahaan mampu menggunakan COBIT 5 sebagai framework tata kelola umum dan integrator. Selain itu prinsip ini menyatukan semua pengetahuan yang sebelumnya tersebar dalam berbagai framework ISACA (COBIT, VAL IT, Risk IT, BMIS, ITAF, dll).
4.       Enabling a holistic approach, yakni COBIT 5 memandang bahwa setiap enabler saling memperngaruhi satu sama lain dan menentukan apakah penerapan COBIT 5 akan berhasil. Enabler didorong oleh Jenabaran tujuan.

5.       Separating governance from management, COBIT membuat perbedaan yang cukup jelas antara tata kelola dan manajemen. Kedua hal tersebut mencakup brbagai kegiatan yang berbeda, memerlukan struktur organisasi yang berbeda, dan melayani untuk tujuan yang berbeda pula.

·       Penerapan Framework Cobit
           Kemajuan teknologi informasi (TI) berkembang sangat cepat, baik mengenai hardware atau software). Hampir semua perusahaan, saat ini menggunakan TI dalam membantu mengelola perusahaan untuk mencapai tujuannya. Dengan penggunaan TI, perusahaan akan mempertimbangkan pengeluaran investasi dan pengendalian yang diterapkan berkaitan dengan penggunaan dan pengelolaan TI, peningkatan sumber daya manusia (SDM), resiko terhadap penggunaan TI, serta strategi dalam penggunaan TI untuk membantu dan mengatasi dalam lingkungan internal (pesaing, pendatang baru, penyalur, pembeli) yang semakin beragam dan kompetitif serta lingkungan eksternal (politik, ekonomi, sosial dan budaya, teknologi, dan ekologi) yang dinamis dan kompleks serta selalu berubah.
            Berkaitan dengan pertimbangan tersebut, perlu adanya suatu metode untuk mengelola TI. Dalam hal ini, metode COBIT (Control Objectives for Information and Related Information) perlu diterapkan dalam pengelolaan perusahaan agar penggunaan TI sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan menghasilkan kinerja yang efisien dan efektif serta mencegah atau meminimalisir adanya resiko terhadap penggunaan TI. Dalam hal ini maka penulis mencoba merancang penerapan COBIT pada PT KAI. Dari gambaran metode COBIT tersebut dapat dilihat langkah pertama yang dapat diambil yaitu :
A.     Perencanaan dan Organisasi
            Perencanaan dan Organisasi. Untuk PT KAI perencanaan dan organisasi, berikut kelemahan-kelemahan PT KAI:

1.       Rencana strategik TI
            Sudah ada rancangan rencana strategik TI nya tetapi belum dapat diaplikasikan ke seluruh unit bisnis PT KAI

2.       Arsitektur informasi
            Belum semua instansi memiliki sistem informasi. Sistem informasi yang sudah dikembangkan belum terintegrasi.

3.       Arah teknologi
            Teknologi yang digunakan belum begitu canggih karena sarana dan prasarana belum memadai Organisasi TI dan hubungan Sudah ada sebuah organisasi yang jelas dan secara khusus menangani bidang IT, tetapi belum bekerja secara maksimal

4.       Investasi TI
            Belum adanya rancangan anggaran TI yang menyeluruh. Alokasi anggaran yang terbatas.
5.       Komunikasi tujuan dan arah manajemen
            Masih lemahnya koordinasi penjadwalan kereta. Hal ini menyebabkan koordinasi lintas kereta kurang efektif.

6.       Manage SDM
            Penempatan SDM yang tidak tepat dan pembagian tugas yang tidak jelas. Pengelolaan sumber daya yang belum optimal baik di tingkat teknis operasional maupun manajerial. Kesesuaian dengan external requirement
            Kurangnya kesiapan dalam antisipasi (change of management) baik terhadap
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi maupun terhadap tuntutan
masyarakat (globalisasi).
-          Penilaian resiko
Belum adanya manajemen resiko dan manajemen kualitas yang baku dalam
pengembangan sistem pendukung perkeretaapian.
-          Manajemen proyek
Manajemen proyek telah dilakukan namun belum optimal.
Desain sistem tidak didukung data yang akurat dan lemahnya koordinasi.p
-          Manajemen kualitas
Kurangnya tenaga ahli yang mampu mengawasi kualitas TI dan rendahnya penghargaan
terhadap SDM TI terampil mempengaruhi kualitas sistem dan pengembangan TI.

B.      Akuisisi dan Implementasi
                        Ditinjau dari tahapan akuisisi dan implementasi maka dapat disimpulkan bahwa     sebenarnya telah terdapat beberapa otomatisasI layanan dan pengembangan sistem informasi.                     Namun pengembangan sistem tersebut masih sporadis di beberapa instansi dan belum terintegrasi. Demikian pula dengan manajemen waktu dan perubahan, roadmap yang disusun baru      mengakomodasi perubahan jangka pendek (short time investment) dan belum mencakup jangka     menengah dan jangka panjang (long time investment). Beberapa kelemahan yang ditemukan diantaranya :
·         Identifikasi solusi otomatisasi
Belum semua sistem diotomatisasi. Sebagian besar layanan masih menggunakan sistem manual. Sistem yang sudah dikembangkan belum terintegrasi.

·         Pemeliharaan aplikasi perangkat lunak
Tidak terdapat alokasi anggaran yang memadai untuk pemeliharaan. Yang sering terjadi justru penggunaan perangkat lunak tidak optimal Pemeliharaan infrastruktur teknologi Tidak didukung SDM TI yang handal dalam pemeliharaan infrastruktur. Alokasi anggaran pemeliharaan masih terbatas. Jangka waktu pemakaian yang tidak jelas.
·         Mengembangkan dan memelihara prosedur
Aturan yang berubah-ubah menjadikan prosedur turut berubah pula.
Tidak ada korelasi dan koherensi antar setiap perubahan sehingga menyulitkan pengembangan dan pemeliharaan prosedur.
·         Instalasi system
Instalasi sistem masih dalam tahap pengembangan ke depan dan menyeluruh.
·         Mengatur perubahan
Masih belum ada persiapan dari pihak PT KAI terhadap perubahan. Perubahan ditentukan dari luar, tidak
direncanakan dari dalam.
Inisiatif internal masih rendah (konsekuensi birokrasi yang lambat).

C.     Pelaksanaan dan Dukungan
Pengembangan IT pada PT KAI dilihat dari pelaksanaan dan dukungan bagi keberlanjutannya, ternyata masih dapat ditemukan beberapa kelemahan sebagai berikut :
·         Mengidentifikasi dan mengatur service levels
Instalasi sistem yang tidak seragam dan belum terintegrasi.

·         Mengatur layanan pihak ke-3
Belum semua instansi membangun system layanan online bagi masyarakat yang dilayaninya. PT KAI pelayanannya hanya melalui telpon.

·         Mengatur kinerja dan kapasitas
Tidak terdapat standarisasi antara kapasitas dan aktualitas, potensi dan hasil kerja.

·         Memastikan layanan berkelanjutan
Roadmap yang dibuat hanya dalam jangka waktu pendek (short time), belum terdapat
roadmap jangka menengah dan jangka panjang (long time).
Roadmap jangka pendek tidak intensif, dan tidak terinci, sangat rentan terhadap
penyimpangan.
Acuan yang digunakan masih sangat umum sehingga sulit dilaksanakan.

·         Memastikan keamanan system
Belum adanya sistem yang menjamin keamanan data serta pengelolaan data yang belum
optimal. Tanggung jawab terhadap keamanan data dan transaksi yang tidak jelas, prosedur
dan mekanisme pengamanan data yang minimalis dan sangat rentan terhadap serangan.
Tingkat vulnerability sistem masih relatif tinggi.

·         Identifikasi dan alokasi biaya/sumber daya
Alokasi anggaran yang tidak tepat sasaran, sangat terbatas.
Alokasi anggaran pada masing-masing tingkat instansi sangat beragam

·         Edukasi dan pelatihan pengguna
Tidak adanya regenersi SDM sehingga SDM yang handal masih sangat terbatas.
Kalaupun ada SDM yang cukup terampil, namun penempatan dan psosisinya tidak tepat
sehingga tidak termanfaatkan kemampuannya secara optimal serta rendahnya penghargaan
terhadap kinerja sumber daya manusia yang terampil.
Meskipun sudah ada usaha untuk mensosialisasikan rencana-rencana , Sosialisasi dari
implementasi masih belum optimal sehingga nilai manfaat dari perkembangan masih
belum dapat dirasakan.

·         Mengatur konfigurasi
Prosentase penggunaan teknologi informasi di masing-masing instansi yang masih kurang
serta tingkat utilitas dari implementasi belum optimal.

·         Mengatur masalah dan kejadian luar biasa
ID member masih dalam tahap perencanaan.
Belum terdapat rancangan dalam penanganan kejadian luar biasa termasuk pertanggungjawabannya.

·         Mengatur data
Data antara instansi belum terintegrasi.
Sudah menggunakan data storage yang memadai.
Manajemen back up data menggunakan komputerisasi.

·         Mengatur fasilitas
Perencanaan fasilitas dan pemeliharaan sudah dilaksanakan, namun masih belum optimal begitu juga pemanfaatan dan pemeliharaan fasilitas.

·         Mengatur operasional
Tidak didukung dengan sistem yang jelas.
Peraturan yang ada masih bersifat umum dan multi tafsir.

KESIMPULAN

Metode cobit perlu diterapkan pada PT KAI, hal ini berdasarkan atas kelemahan-kelemahan yang telah diuraikan pada bagian sebelumnya. Dengan diterapkannya metode cobit diharapkan kinerja PT KAI dapat lebih baik dan terorganisir sehingga visi dan misi perusahaan dapat tercapai dan juga dapat memberikan kontribusi bagi pengguna jasa kereta api, pemegang saham dan pemerintah.
Referensi :
www.isaca.org/cobit/

Komentar